 |
| (Ilustrasi oleh Asri Wulandari) |
Beberapa waktu belakangan seringkali ditemui akun sosial media yang memposting foto setelah ia melakukan self harm. Self harm sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, bahkan ada sekelompok orang yang memiliki kepercayaan bahwa menyakiti diri sendiri dapat digunakan sebagai pelepas kesedihan.
Kasus self harm banyak ditemukan pada anak usia ramaja, masa yang merupakan peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Menurut Hurlock (2006), masa remaja adalah masa dimana seseorang berada dalam masa yang penuh konflik, hal ini terjadi disebabkan oleh perubahan bentuk pada tubuh, pola pikir, dan peran sosial.
Perubahan-perubahan yang terjadi tentu menciptakan tekanan pada individu seseorang, yang kemudian besar kemungkinan dapat meningkatkan stres. Sebagian orang dapat survive dari masa peralihan ini, tapi tak sedikit pula yang belum mampu untuk beradaptasi dan mengatasi perubahan yang terjadi di hidupnya. Hal ini dapat menyakiti individu secara emosional, beberapa orang memilih untuk menyakiti dan melukai dirinya sendiri (self harm) demi menekan rasa sakit emosionalnya. Orang yang melakukan self harm kerap merasakan beban di benaknya menjadi ringan, sedikit lega karena rasa sakit yang dirasa berpindah ke tempat ia melukai dirinya.
Self harm adalah suatu bentuk perilaku yang dilakukan individu untuk mengatasi tekanan emosional atau rasa sakit secara emosional dengan cara menyakiti diri sendiri tanpa bermaksud untuk melakukan bunuh diri (Jenny, 2016; Klonsky dkk, 2011). Faktor pemicu self harm sangat beragam, baik datang dari internal maupun eksternal, bisa saja dimulai dari lingkungan keluarga, percintaan, bahkan lingkungan sekolah.
Dari banyak faktor, self harm adalah fenomena yang berkembang di kalangan remaja, sesuatu yang tidak dapat diabaikan. Individu yang berada dalam masa remaja adalah yang paling rentan dan membutuhkan dukungan dari orang tua, guru, konselor, dan dokter. Tahap peralihan dari anak-anak menjadi dewasa sudah penuh tekanan tanpa faktor-faktor lain seperti intimidasi, kekerasan dalam pacaran, tekanan akademis, dan tekanan keluarga.
Mencegah Self Harm
Ada beberapa dari banyak hal yang dapat kamu lakukan jika terlintas di pikiranmu untuk melukai diri sendiri.
1.
Bernapas dalam-dalam
Breath deeply! Berikan sedikit space untuk dirimu bernafas. Ambil napas panjang, isi paru-parumu dengan banyak oksigen, tahan lalu keluarkan perlahan. Hope it’ll make you better.
2.
Rasakan apa yang kamu rasakan dan menangis
Salah satu cara agar membuat dirimu membaik saat ada masalah ada merasakannya, kalau pun perlu kamu boleh menangis. It’s really okay to cry, menangis tidak akan membuat seseorang terlihay lemah dan menyedihkan, kok!
3.
Menciptakan sesuatu atau berseni
Menciptakan sesuatu seperti menggambar, melukis, menulis cerita pendek, menulis puisi merupakan contoh kegiatan yang dapat membantu kamu untuk menuangkan segala emosi yang sedang kamu pendam.
4.
Memainkan atau mendengarkan musik
Buatlah playlist berisi lagu-lagu yang dapat membuatmu nyaman, ini dapat sedikit membantumu dan mengalihkan dari pikiran untuk self harm. Selain itu, kamu juga bisa menyanyi atau menarik, bergerak dan lepaskanlah semua yang ada di benakmu.
5.
Menulis surat untuk diri sendiri
Ingat saat-saat bahagiamu, apa cita-citamu, apapun yang menyenangkan untukmu. Tulis dalam sebuah kertas, saat merasakan dan berpikiran untuk melukai diri sendiri, kamu bisa membaca semua tulisan-tulisanmu. Katakan pada dirimu, “I deserve the world”, “I don’t deserve more pains”, “this feeling will pass”, atau sesuatu lainnya.
6.
Menonton tayangan film favoritmu
Seperti halnya mendengarkan musik, ini mungkin dapat membantumu. Menonton video-video lucu juga dapat membuat dirimu menjadi lebih rileks.
7.
Melakukan sesuatu kebaikan
Tiap orang miliki cara berbeda untuk melepas beban pikirannya, salah satunya mungkin ini. Berbuat kebaikan, membantu sesama, kamu mungkin bisa tersenyum saat melihat orang yang kamu bantu tersenyum.
8.
Berbicara atau berkirim pesan dengan seseorang
Hal yang kamu butuhkan mungkin teman bicara, seseorang yang mendengarkanmu dengan baik. Tidak menghakimi, tidak membandingkan masalahmu dengan masalah orang lain, namun cukup mendengarkan. Kamu bisa bercerita dengan orang terpercayamu tentang apa yang kamu alami.
9.
Ask for support
You are not alone. Mungkin orang-orang di sekitarmu tidak begitu baik, namun dari sekian banyak orang di dunia, masih banyak yang peduli. Meminta semangat dari orang lain mungkin bisa membuatmu menjadi lebih baik. Masih banyak orang baik yang pasti mau memberi sedikit dukungan moral dan emosional.
The Butterfly Project
The Butterfly Project sudah terkenal sejak beberapa tahun lalu. Gagasan utama terbentuknya proyeknini adalah untuk membawa kesadaran dan strategi alternatif bagi mereka yang ingin melukai diri sendiri (self harm).
Caranya cukup dengan menggambar kupu-kupu di kulit, tempat dimana seseorang sering menyakiti dirinya, misalnya pergelangan tangan atau paha. Kupu-kupu yang digambar merupakan perwakilan dari seseorang yang sangat disayang. Aturan mainnya, jangan memotong, menghapus paksa, atau pun melukai kupu-kupu tersebut. Biarkan ia hilang dan memudar dengan sendirinya.
Jika kamu melanggar aturan, menotong, menghapus atau melukai kupu-kupu tersebut —kupu-kupu yang mewakili orang tersayangmu—, artinya kupu-kupu itu telah mati. Namun, jika kupu-kupu itu berhasil menghilang dengan sendirinya berarti kamu telah membebaskan kupu-kupu tersebut, membebaskan dirimu dari tindak menyakiti diri sendiri.
Masih banyak orang yang belum aware terhadap self harm. Memposting foto self harm dapat memicu orang lain untuk melakukan hal yang sama, jadi bijaklah dalam memposting sesuatu, ya. Kenali dirimu sendiri, sadari apa pemicunya, sehingga jika suatu waktu pemicu itu datang dan kamu dapat mengatur emosimu.